Saya pernah menempuh perjalanan 25 kilometer hanya untuk belajar bagaimana menyalakan dan menggunakan komputer. Dua puluh tujuh tahun kemudian, saya akan menempuh perjalanan lagi, kali ini ribuan kilometer, untuk sebuah event internasional, belajar bagaimana internet yang digunakan miliaran orang di dunia dikelola.
Kalau ada yang mengira perjalanan itu sudah direncanakan sejak awal, saya harus menyangkalnya. Saya tidak pernah punya rencana ke titik ini, tidak membayangkan sama sekali! Saya pernah salah memilih jurusan, berhenti kuliah di semester dua, memulai lagi dari nol, menyelesaikan S1 dalam 10 semester, melewati enam tahun tanpa melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana, mencoba freelance dan berbagai usaha yang semuanya belum berhasil, kemudian menjadi dosen, kembali ke dunia praktis, menjadi trainer .id Academy, dan sekarang mendapat kesempatan menjadi salah satu penerima fellowship PANDI untuk event ICANN87.
Kalau hidup punya peta, mungkin peta saya lebih mirip coretan daripada garis lurus. Terlalu banyak maju mundur, kiri kanan dan atas bawah ketimbang grafik yang teratur!
Lewat tulisan ini, saya mencoba menceritakan bagaimana kemungkinan kecil yang sering kita abaikan, sejatinya cukup layak untuk dipertimbangkan. Lebih dari sekadar salah satu prasyarat keikutsertaan sebagai fellowship PANDI pada ICANN87, Saya ingin tulisan ini memantik semangat adik-adik yang saat ini tinggal di daerah yang infrastruktur teknologinya masih tertinggal. Karenanya Saya akan mulai dari kondisi awal berkenalan dengan komputer bermonitor tabung warna putih.
Sekitar tahun 1998 atau 1999, saya masih seorang anak SD yang tinggal di daerah pinggiran, sebuah desa kecil yang berjarak 25 kilometer ke Ibukota Kabupaten. Daerah yang listriknya lebih sering padam ketimbang menyala.
Tentu saja di masa itu komputer belum menjadi benda yang mudah ditemukan seperti sekarang. Tidak ada laptop di dalam tas. Tidak ada smartphone di saku. Internet juga belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti sekarang. Tetapi orang tua saya sudah melihat sesuatu yang mungkin belum bisa saya lihat saat itu. Bahwa komputer dan teknologi akan masuk ke semua aspek kehidupan, sehingga mereka memasukkan saya ke tempat les komputer.
Jaraknya sekitar 25 kilometer dari rumah. Di pusat kota Kabupaten! Transportasi umum masih sangat terbatas. Jadi untuk mengikuti les, ada perjalanan yang harus ditempuh dan waktu yang harus disiapkan. Masa itu, Saya tidak pernah protes. Mungkin karena waktu itu saya juga belum mengerti seberapa penting komputer nantinya. Saya hanya tahu bahwa saya sedang belajar sesuatu yang baru. Untuk anak seumuran itu, dengan rasa ingin tahu yang tinggi, tentu saja kita akan anggap itu sebagai mainan baru.
Dan ternyata, perjalanan 25 kilometer itu adalah salah satu perjalanan terpenting dalam hidup saya. Tiupan angin ketika naik mobil pickup yang dimodifikasi dengan dipasang tenda dalam perjalanan pergi pulang les itu menjadi titik awal saya bergantung hidup di dunia ini.
Bukan karena saya langsung menjadi hebat setelah belajar komputer. Jauh dari itu, sangat sangat jauh! Tepatnya karena dari sanalah rasa penasaran saya terhadap teknologi mulai tumbuh.
Tapi seperti yang saya sampaikan di awal, perjalanannya tidak lurus begitu saja. Saya menemui beberapa persimpangan terlebih dahulu, misalnya saat awal lulus SMA. Ketika kemudian tiba waktunya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, saya tidak langsung masuk bidang komputer. Saya justru masuk Teknik Sipil, jurusan yang saya sendiri saat itu tidak paham kemana tujuan, mau jadi apa, dan akan belajar apa. Di sana Saya hanya bertahan sampai semester dua, dan GAGAL!
Akhirnya saya mengambil keputusan untuk berhenti dan entah bagaimana cerita persisnya, saya memilih untuk memulai kembali di bidang komputer.
Hari ini, ketika mengingatnya, saya justru merasa kegagalan itu punya tempat penting dalam perjalanan saya. Sebab setelah gagal di Teknik Sipil, saya kemudian masuk ke S1 Teknik Informatika. Tetapi sekali lagi, saya bukan mahasiswa yang bisa diceritakan sebagai mahasiswa berprestasi. Saya menyelesaikan S1 dalam 10 semester. Artinya, jika dihitung sejak pertama kali masuk kuliah sampai mendapatkan gelar sarjana, saya menghabiskan waktu sekitar enam tahun.
Prestasi akademis saya juga sangat biasa-biasa saja. Tidak ada cerita menjadi mahasiswa teladan atau langganan penghargaan. Tidak ada catatan maupun reputasi mentereng yang dapat saya banggakan, atau tuliskan di artikel ini. Saya hanya berusaha menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.
Dan ternyata, kadang-kadang itu sudah cukup untuk membawa kita ke tahap berikutnya.
Setelah lulus S1, saya tidak langsung melanjutkan S2. Ada jeda sekitar enam tahun. Kalau melihat CV, mungkin periode itu hanya tampak seperti ruang kosong. Padahal bagi saya, justru banyak hal terjadi di sana.
Saya mencoba freelance.
Mencoba usaha.
Mengerjakan berbagai pekerjaan.
Mencoba berbagai kemungkinan.
Ada yang berjalan.
Namun banyak yang berhenti.
Ada juga yang mungkin kalau diingat sekarang membuat saya tersenyum sendiri.
Tetapi satu hal selalu sama. Saya tidak pernah benar-benar jauh dari komputer.
Apa pun yang saya coba, selalu ada hubungannya dengan teknologi. Komputer tetap menjadi alat saya bekerja. Internet selalu menjadi tempat saya mencari peluang. Teknologi menjadi sesuatu yang saya gunakan untuk mencoba membangun sesuatu.
Mungkin saat itu saya belum menyadari bahwa enam tahun tersebut sebenarnya sedang proses membentuk pola pikir dan cara memandang sesuatu. Saya sedang belajar hal-hal yang tidak diajarkan di ruang kuliah.
Tentang pekerjaan.
Tentang pelanggan.
Tentang kegagalan.
Tentang mencoba lagi.
Dan mungkin yang paling penting, tentang apa yang sebenarnya ingin saya lakukan.
Setelah enam tahun itu, saya melanjutkan pendidikan S2. Dan setelah lulus S2, saya mendapatkan kesempatan menjadi dosen, dengan jalan yang sangat lancar. Saya yakin di point ini saya beruntung, namun keberuntungan tentu saja harus dibarengi pembuktian. Setidaknya itu yang selalu saya yakini! Agak lucu juga kalau dipikir-pikir. Saya pernah gagal di Teknik Sipil. Kemudian menjadi mahasiswa di Ilmu Komputer. Menyelesaikan S1 dalam 10 semester. Berjarak enam tahun sebelum melanjutkan S2. Lalu setelah S2, justru masuk ke dunia akademik sebagai dosen.
Dunia memang kadang punya cara yang aneh untuk menyusun hidup seseorang. Di ruang kelas, saya kemudian mengajarkan teknologi kepada mahasiswa. Saya yang dulu belajar komputer karena didorong orang tua, sekarang berdiri di depan mahasiswa dan berbicara tentang komputer dan teknologi. Dari sana saya semakin memahami bahwa teknologi bukan sekadar perangkat.
Teknologi adalah tentang manusia.
Tentang kesempatan.
Tentang pengetahuan.
Tentang bagaimana sesuatu yang kita pelajari bisa membantu orang lain.
Setelah beberapa waktu di dunia akademik, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dari dunia akademis dan kembali lebih fokus ke dunia praktis, membangun usaha di bidang IT. Saya kembali menjadi praktisi.
Mengerjakan proyek.
Membuat website.
Membangun sistem.
Mencoba mengembangkan usaha.
Bertemu berbagai macam orang.
Dan kembali belajar dari dunia nyata.
Di titik ini saya merasa perjalanan saya kembali ke tempat yang dulu. Komputer, Teknologi, dan Internet. Hanya saja sekarang saya tidak lagi sekadar belajar menggunakannya. Saya mulai mencoba membangun sesuatu dengannya. Sambil terus berbagi pengetahuan dengan mahasiswa, namun tidak lagi sebagai seorang dosen fulltime.
Dalam perjalanan itulah saya mendapat kesempatan untuk menjadi trainer .id Academy PANDI.
Bagi saya, ini terasa seperti sebuah lingkaran yang lengkap. Dulu orang tua saya mengirim saya sejauh 25 kilometer untuk belajar komputer. Sekarang saya justru mendapatkan kesempatan untuk bepergian dan berbagi pengetahuan tentang dunia digital kepada orang lain, di banyak tempat, pada banyak kesempatan.
Dulu saya duduk sebagai peserta les.
Sekarang saya berdiri sebagai pengajar, sebagai trainer.
Semakin sering berbicara tentang domain .id, website, identitas digital, dan internet, semakin saya menyadari bahwa ada satu sisi internet yang selama ini belum banyak dilihat.
Saya tahu cara membuat website.
Saya paham cara menggunakan domain.
Saya hafal betul bagaimana internet membantu pekerjaan dan bisnis.
Tetapi saya belum benar-benar memahami pertanyaan yang jauh lebih besar:
Bagaimana internet itu dikelola? Siapa yang membuat kebijakannya? Bagaimana berbagai kepentingan bisa bertemu? Bagaimana sistem yang digunakan miliaran manusia ini dijaga agar tetap aman, stabil, dan terus berkembang?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya ke ICANN87. Semua berawal dari sebuah informasi via chat WAgroup yang bagi saya merupakan kesempatan yang harus dimaksimalkan. Undangan mendaftar fellowship PANDI untuk ICANN annual meeting, dengan persyaratan yang telah dijabarkan dengan jelas. Saya coba mengikuti, mempersiapkan semaksimal mungkin, hingga kabar bahwa saya lolos itu diumumkan. Dan tahun ini, ICANN87 akan diselenggarakan di Bali.
Bagi saya, kesempatan ini terasa istimewa bukan hanya karena tempatnya atau karena ini merupakan pertemuan internasional. Ada sesuatu yang jauh lebih personal. Saya membayangkan kembali anak kecil yang dulu harus menempuh 25 kilometer dengan transportasi umum yang terbatas hanya untuk belajar komputer. Anak yang belum tahu apa-apa tentang internet governance. Anak yang tidak pernah membayangkan bahwa komputer akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya akan berada di sebuah forum yang membicarakan masa depan internet.
Sejujurnya, Saya belum tahu seperti apa suasananya. Saya belum tahu siapa saja yang akan saya temui. Saya belum tahu diskusi apa yang akan paling membekas. Saya juga belum tahu pengetahuan apa yang nantinya akan saya bawa pulang.
Dan justru itu yang membuat saya bersemangat. Saya datang bukan sebagai orang yang sudah mengetahui semua jawabannya. Saya datang sebagai orang yang ingin belajar. Saya ingin melihat internet dari sisi yang selama ini tidak terlihat. Selama ini kita mengenal internet dari layar.
Kita membuka website.
Mengirim pesan.
Mencari informasi.
Menjalankan bisnis.
Belajar.
Bekerja.
Tetapi ada dunia yang bekerja di balik layar itu.
Ada domain dan DNS.
Ada keamanan.
Ada kebijakan.
Ada standar.
Ada persoalan penyalahgunaan.
Ada kebutuhan agar internet dapat digunakan oleh manusia dengan bahasa dan aksara yang beragam.
Dan ada banyak pihak dari berbagai negara serta latar belakang yang harus duduk bersama untuk membicarakannya.
ICANN87 bagi saya adalah kesempatan untuk melihat sisi tersebut lebih dekat. Bukan hanya sebagai pengguna. Bukan hanya sebagai orang yang bekerja dengan teknologi. Tetapi sebagai seseorang yang ingin memahami bagaimana ekosistem internet global bekerja.
Saya ingin mendengar.
Saya ingin bertanya.
Saya ingin belajar.
Dan kalau memungkinkan, saya ingin membawa pulang pengetahuan tersebut untuk dibagikan kembali kepada komunitas dan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan saya.
Mungkin ini yang paling menarik dari seluruh cerita saya. Saya tidak pernah merencanakan sampai di sini. Tidak ketika orang tua saya mengirim saya belajar komputer sejauh 25 kilometer. Tidak ketika saya gagal di Teknik Sipil. Tidak ketika saya harus memulai lagi dan menyelesaikan S1 dalam 10 semester. Tidak ketika saya melewati enam tahun setelah S1 dengan mencoba berbagai pekerjaan dan usaha. Tidak ketika saya melanjutkan S2. Tidak ketika saya kemudian menjadi dosen. Dan tidak ketika saya memutuskan kembali ke dunia praktis.
Semuanya terjadi satu per satu. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Sampai akhirnya sebuah kesempatan dari .id Academy PANDI membawa saya ke pintu yang lain: ICANN87.
Kali ini saya belum bisa bercerita tentang apa yang saya dapatkan dari sana. Karena ceritanya bahkan belum dimulai. Tetapi saya sudah punya harapan. Saya berharap bisa melihat internet dengan cara yang lebih utuh.
Saya berharap bisa belajar dari orang-orang yang selama ini bekerja menjaga dan mengembangkan ekosistem internet global. Saya berharap bisa memahami bagaimana Indonesia mengambil bagian dalam percakapan tersebut. Dan yang paling penting, saya berharap pengalaman ini tidak berhenti pada diri saya.
Saya ingin apa yang saya pelajari nanti bisa kembali menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain. Karena kalau saya mengingat kembali perjalanan saya, semuanya memang bermula dari satu hal yang sangat sederhana: seorang anak yang diberi kesempatan untuk belajar komputer.
Dari sana saya belajar bahwa kita tidak pernah tahu ke mana sebuah kesempatan kecil akan membawa kita. Hari ini saya belum tahu apa yang akan saya temukan di ICANN87. Tetapi saya tahu satu hal: saya akan datang dengan rasa ingin tahu yang sama seperti ketika pertama kali duduk di depan komputer lebih dari dua puluh tahun lalu.
Hanya saja, kali ini pertanyaannya jauh lebih besar. Dulu saya ingin tahu bagaimana cara menggunakan komputer. Hari ini, saya ingin belajar bagaimana internet dunia dikelola.


Posting Komentar