Pernah nggak sih kalian melihat teman yang sibuknya minta ampun? Pagi kuliah, siang rapat himpunan, sore mengurus event kampus, malamnya masih harus evaluasi panitia. Sementara itu, ada tipe mahasiswa lain yang hidupnya tenang, damai, dan teratur: Datang kuliah, catat materi, pulang, kerjakan tugas, lalu tidur atau main game.
Jujur saja, dulu saya lebih condong ke tipe yang kedua. Atau setidaknya, saya bukan tipe aktivis militan yang rela tidur di sekretariat organisasi.
Saat itu, logika saya sederhana. Tugas utama pelajar dan mahasiswa ya belajar. Fokus ke akademik, kejar nilai bagus, asah hard skill (seperti coding atau teknis lainnya), dan lulus cepat. Buat apa capek-capek rapat sampai malam kalau tidak digaji? Buat apa mengurusi drama organisasi yang kadang bikin pusing kepala?
Tapi teman-teman, izinkan saya jujur di tulisan ini. Sekarang, setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia profesional—baik saat berdiri di depan kelas mengajar mahasiswa, maupun saat harus memutar otak mengelola bisnis dan tim di perusahaan sendiri—saya menyadari satu hal pahit:
Saya menyesal dulu tidak lebih "gila" dalam berorganisasi.
Kenapa? Karena ternyata, "kurikulum" kehidupan yang sebenarnya justru banyak diajarkan di ruang-ruang rapat organisasi yang pengap itu, bukan hanya di ruang kelas ber-AC yang nyaman.
Harga Mahal Sebuah "Ketidakaktifan"
Ketika saya mulai membangun karir dan bisnis, saya sadar bahwa skill teknis itu penting, tapi itu hanya tiket masuk. Skill teknis membuat Anda dipanggil wawancara, atau membuat klien melirik portofolio Anda. Tapi, yang membuat Anda bertahan, naik jabatan, atau memenangkan deal bisnis besar adalah soft skill.
Dan di sinilah penyesalan itu muncul.
Dulu, saya harus belajar leadership (kepemimpinan) dengan cara yang keras: trial and error saat bisnis sudah berjalan. Saya harus merasakan canggungnya negosiasi, bingungnya mengatur konflik antar-karyawan, atau gagapnya bicara di depan klien besar—semua itu saya pelajari "secara paksa" di lapangan.
Padahal, semua simulasi "berdarah-darah" itu sebenarnya disediakan gratis di organisasi sekolah dan kampus.
Bayangkan jika dulu saya lebih aktif. Mungkin saya sudah khatam bagaimana cara menghadapi rekan kerja yang "batu", bagaimana memotivasi tim yang lagi down, atau bagaimana menyusun proposal sponsorship yang tidak mungkin ditolak. Itu semua adalah skill bisnis bernilai jutaan rupiah yang seringkali dianggap remeh oleh mahasiswa tipe "kupu-kupu" (kuliah pulang-kuliah pulang).
Organisasi adalah Inkubator CEO dan Profesional Tangguh
Kalau kalian sekarang masih sekolah atau kuliah, dan merasa organisasi itu cuma bikin capek, coba ubah mindset kalian sekarang juga. Berikut adalah alasan kenapa organisasi adalah investasi terbaik untuk masa depan dompet dan karir kalian:
1. Seni "Menjual Diri" dan Komunikasi Di dunia kerja dan bisnis, orang pintar yang diam akan kalah dengan orang biasa yang pandai bicara. Di organisasi, kalian dipaksa bersuara. Kalian belajar berdebat, mempertahankan argumen, dan melakukan public speaking. Saat kalian nanti harus presentasi di depan investor atau atasan, kalian tidak akan gemetar lagi karena mental itu sudah ditempa saat rapat proker tahunan.
2. Networking: Harta Karun Tak Terlihat Teman yang kalian ajak ribut saat rapat hari ini, bisa jadi adalah partner bisnis kalian 10 tahun lagi. Atau mungkin, dia adalah HRD di perusahaan impian kalian. Organisasi memperluas circle pertemanan kalian melampaui teman sekelas. Semakin luas jaringan, semakin mudah rezeki masuk. Percayalah, banyak proyek bisnis saya gol bukan karena seberapa jago saya coding, tapi karena "siapa yang saya kenal".
3. Manajemen Krisis dan Emosi Di organisasi, pasti ada masalah. Dana kurang, pembicara batal datang H-1, atau konflik internal. Di situlah mental baja dibentuk. Kalian belajar tenang di bawah tekanan. Di dunia bisnis, ini makanan sehari-hari. Kalau di kampus kalian kabur saat ada masalah organisasi, nanti di dunia kerja kalian akan jadi karyawan yang gampang resign cuma karena ditegur bos.
4. Belajar Gratis dengan Resiko Minim Kalau kalian bikin kesalahan fatal di organisasi kampus, paling banter kalian dimarahi ketua atau acara jadi kurang sukses. Tapi kalau kalian bikin kesalahan fatal di bisnis atau pekerjaan? Kalian bisa dipecat atau perusahaan rugi ratusan juta. Organisasi adalah tempat paling aman untuk "gagal" dan belajar dari kegagalan itu.
Penutup: Jangan Jadi Penonton
Jadi, untuk kalian yang masih punya kesempatan: Keluarlah dari zona nyaman.
Jangan cuma jadi mahasiswa yang datang, duduk, diam, pulang. Jadilah yang angkat tangan, yang mengajukan diri jadi ketua panitia, yang berani mengemukakan ide gila di forum.
Lelah? Pasti. Nilai mungkin sedikit terganggu? Bisa diatur dengan manajemen waktu. Tapi percayalah, 5 atau 10 tahun dari sekarang, saat kalian sedang menghadapi tantangan berat di kantor atau bisnis kalian sendiri, kalian akan tersenyum dan berterima kasih pada diri kalian yang muda—yang dulu mau capek-capek berorganisasi.
Jangan sampai kalian menulis artikel penyesalan seperti saya di masa depan. Mulailah bergerak, sekarang!

Posting Komentar