Kepemimpinan sering kali kita artikan sebagai kemampuan untuk memerintah atau mengelola sebuah struktur organisasi. Namun, dalam dunia pendidikan, definisi ini terasa terlalu kaku dan dingin. Bagi saya, kepemimpinan di sekolah atau kampus adalah seni menyentuh hati dan membangun visi bersama. Pandangan ini semakin kuat tertanam dalam benak saya setelah sebuah perjalanan berharga ke kaki Gunung Singgalang.
Sebagai seorang Trainer Academy PANDI, saya memiliki privilege untuk bertemu dengan banyak pendidik hebat dari berbagai latar belakang. Namun, kunjungan saya ke SMPN 3 Kec. X Koto, Nagari Singgalang, memberikan kesan yang mendalam dan berbeda. Di sana, di tengah sejuknya udara pegunungan dan semangat anak-anak nagari yang menyala, saya menemukan definisi kepemimpinan dari sosok Bapak Fauzi Abduh.
Saat itu, saya datang dengan membawa materi pelatihan, siap berbagi pengetahuan teknis tentang teknologi digital utamanya pengembangan website bagi siswa. Namun, yang terjadi justru sebaliknya; sayalah yang "belajar" dari Pak Fauzi. Beliau bukan sekadar kepala sekolah yang duduk di balik meja administrasi. Saya melihat beliau sebagai nyawa dari SMPN 3 Kec. X Koto.
Ada aura ketenangan namun tegas dalam cara beliau memimpin. Di tengah tantangan mengelola sekolah yang berada di area nagari (desa), jauh dari hiruk-pikuk fasilitas kota besar, Pak Fauzi menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berinovasi. Beliau mampu menanamkan rasa percaya diri, tidak hanya kepada para siswa, tetapi juga kepada rekan-rekan guru. Muaranya adalah prestasi dan capaian warga sekolah yang menurut saya layak disebut "bukan main".
Saya mengamati bagaimana beliau berinteraksi. Tidak ada jarak feodal yang sering kita bayangkan dalam birokrasi. Beliau hadir sebagai bapak, mentor, sekaligus pendorong semangat. Ketika saya berdiskusi dengannya, terlihat jelas visi beliau yang jauh ke depan: keinginan agar anak-anak Singgalang tidak hanya menjadi penonton di era digital, tetapi menjadi pemain kunci. Semangat inilah yang membuat atmosfer sekolah tersebut terasa hidup, hangat, dan siap menerima perubahan.
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa teknologi, kurikulum, dan fasilitas hanyalah alat. Alat-alat tersebut tidak akan pernah berbunyi nyaring tanpa tangan dingin seorang pemimpin yang peduli. Di Academy PANDI, kami mengajarkan pentingnya literasi digital, tetapi Pak Fauzi mengajarkan saya pentingnya membangun karakter.
Kepemimpinan beliau mengingatkan saya bahwa tugas seorang pendidik baik itu dosen, guru, maupun pelatih adalah melayani. Memimpin berarti membersamai mereka yang kita pimpin untuk melampaui batasan diri mereka sendiri. Inspirasi dari Singgalang ini kini menjadi bekal berharga bagi saya. Setiap kali saya berdiri di depan kelas atau mengisi pelatihan, saya teringat bahwa dampak terbesar bukan lahir dari kecanggihan materi yang saya sampaikan, melainkan dari seberapa kuat saya mampu menginspirasi dan memberdayakan orang lain, layaknya Pak Fauzi Abduh memimpin sekolahnya.

Posting Komentar