Bukan Google, Tapi Dia! Al-Khawarizmi: Bapak Algoritma yang Mengubah Wajah Dunia Digital


Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana TikTok tahu persis video apa yang Anda sukai? Bagaimana Google Maps menemukan rute tercepat di tengah kemacetan? Atau sesederhana, bagaimana komputer memproses logika IF... THEN...?

Di balik layar smartphone canggih dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kita agung-agungkan hari ini, ada jejak pemikiran seorang Muslim jenius dari abad ke-9. Tanpa beliau, tidak ada sosial media, tidak ada ojek online, dan tidak ada internet seperti yang kita kenal sekarang.

Namanya Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. Dunia Barat menyebutnya Algoritmi, sosok yang namanya diabadikan menjadi istilah paling kuat di era digital: ALGORITMA.

Sebagai seorang dosen IT, saya sering menekankan kepada mahasiswa saya: "Koding itu bukan soal menghafal sintaks, tapi soal logika berpikir." Dan logika berpikir komputasional itu, fondasinya diletakkan oleh ilmuwan Muslim ini.

Siapa Sebenarnya Al-Khawarizmi?

Lahir sekitar tahun 780 M di Khawarizm (sekarang Uzbekistan), Al-Khawarizmi bukan sekadar penemu angka nol. Beliau adalah kepala perpustakaan di Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad pada masa Khalifah Al-Ma'mun. Ini adalah "Silicon Valley"-nya abad pertengahan, tempat berkumpulnya otak-otak paling encer di dunia.

Karya terbesarnya, Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala, bukan hanya buku matematika biasa. Ini adalah buku pedoman praktis pertama di dunia tentang penyelesaian masalah sistematis.

Bedah Konsep: Dari "Al-Jabr" Menjadi Koding Modern

Mari kita masuk ke bagian teknis. Banyak orang tahu beliau menemukan Aljabar, tapi tidak paham bagaimana cara kerjanya dan hubungannya dengan koding.

Kata Al-Jabr secara harfiah berarti "pemulihan" atau "melengkapi" (restoration). Ini merujuk pada proses memindahkan angka negatif dari satu sisi persamaan ke sisi lain agar menjadi positif. Sedangkan Al-Muqabala berarti "penyeimbangan" (balancing).

Contoh Perhitungan Al-Khawarizmi:

Bayangkan sebuah masalah klasik yang beliau tulis:

"Sesuatu (harta/angka), jika dikurangi 3, hasilnya sama dengan 7."

Dalam notasi modern, kita menulisnya:

x - 3 = 7

Bagaimana Al-Khawarizmi menyelesaikannya dengan konsep Al-Jabr?

  1. Beliau melihat ada "kekurangan" (-3) di sisi kiri.

  2. Beliau melakukan "pemulihan" (Al-Jabr) dengan memindahkan kekurangan itu ke sisi kanan.

  3. Menjadi: x = 7 + 3

  4. Hasilnya: x = 10

Relevansinya dengan Koding Hari Ini:

Terlihat sederhana? Tunggu dulu. Konsep "memindahkan nilai" dan "mencari variabel X yang tidak diketahui" adalah jantung dari semua bahasa pemrograman.

Dalam bahasa pemrograman (misalnya PHP atau JavaScript), konsep Al-Khawarizmi ini adalah dasar dari Variabel dan Assignment.

JavaScript

// Konsep Al-Jabr dalam JavaScript
let x; // Variabel (Sesuatu yang dicari)
let pengurang = 3;
let hasil = 7;

// Proses pemulihan (Logika Al-Jabr)
x = hasil + pengurang;

console.log(x); // Output: 10

Tanpa konsep abstrak "X" (variabel) yang diperkenalkan Al-Khawarizmi, kita tidak akan bisa membuat program yang dinamis. Komputer hanya akan jadi kalkulator kaku yang cuma bisa menghitung 1+1.

Algoritma: Resep Masak vs Logika Komputer

Selain Aljabar, warisan terbesar beliau adalah Algoritma.

Apa itu algoritma menurut Al-Khawarizmi? Itu adalah serangkaian langkah logis yang berurutan untuk menyelesaikan masalah tertentu.

Dulu, beliau merumuskan algoritma untuk menghitung pembagian warisan (Faraid) yang rumit agar adil sesuai syariat, menghitung arah kiblat, dan posisi bintang. Beliau mengajarkan bahwa masalah besar harus dipecah menjadi langkah-langkah kecil (step-by-step).

Penerapan Modern:

Hari ini, definisi itu tidak berubah. Bedanya, kita menerapkannya pada mesin.

Contoh Algoritma Media Sosial (Sederhana):

  1. Input: User membuka aplikasi.

  2. Proses (Logika Al-Khawarizmi):

    • Jika user sering nonton video kucing -> Tampilkan video kucing.

    • Jika user skip video joget -> Jangan tampilkan video joget.

  3. Output: Halaman "For You Page" yang personal.

Struktur berpikir sistematis inilah yang disebut Computational Thinking.

Kenapa Muslim Harus "Melek" Teknologi?

Al-Khawarizmi tidak menemukan matematika untuk sekadar gaya-gayaan atau mengejar jabatan. Beliau melakukannya untuk memecahkan masalah umat: pembagian warisan yang adil, pengukuran tanah untuk irigasi pertanian, dan penentuan waktu sholat.

Spirit inilah yang hilang dari kita.

Seringkali kita, umat Muslim, merasa cukup hanya menjadi "pengguna" teknologi. Kita bangga pakai iPhone terbaru, tapi lupa bahwa pendahulu kitalah yang meletakkan dasar teknologinya.

Di bulan Ramadhan ini, mari kita ubah mindset. Belajar koding, belajar desain, belajar manajemen data, bukan hanya untuk cari kerja. Tapi sebagai bentuk ibadah ghairu mahdhah—meneruskan tradisi keilmuan Islam untuk memberi solusi bagi masalah manusia hari ini.

Jika Al-Khawarizmi bisa mengubah dunia dengan pena dan kertas di bawah cahaya lilin, bayangkan apa yang bisa kita lakukan dengan laptop dan internet kecepatan tinggi hari ini.

Wallahu a'lam bishawab.

Author

Praktisi dan Akademisi Teknik Informatika. Business and Technology enthusiast.

Posting Komentar